“SEJARAH KERAJAAN SINGHOSARI”

 Latar belakang

            Berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya ilmu sejarah harus sejalan dengan pengetahuan mahasiswa dalam memahami sebanyak mungkin tentang sejarah  masa lampau, seperti halnya kita mempelajari dan memahami kerajaan yang kita bahas dalam makalah ini yaitu kerajaan singhosari, pada mulanya kerajaan ini bergabung dengan kerajaan kediri, tapi karena keegoisan penguasanya “ken arok” kerajaan ini memisahkan dari kediri, dengan jalan membunuh bupati tumampel yang berkuasa pada saat itu dan bahkan mengwini istri bupati tersebut, setelah beberapa lama berkuasa ken arok di bunuh oleh anak tirinya sendiri (anusapati), sebagai balas dendam atas terbunuhnya ayahnya, tak beberapa lama anusapati di bunuh oleh Tohjaya Yang merupakan anak kandung ken arok dari istri lainnya, kemudian setelah beberapa bulan tohjaya dibunuh oleh Rangga wuni yang notabennya anak dari anusapati, sebagai balas dendam atas terbunuhnya ayahnya, tapi saat raja ini berkuasa tidak terjadi pembunuhan lagi, kerajaan berjalan makmur sampai ia wafat, dan diterskan kekuasaannya oleh anaknya yang bernama kartanegara, saat menjalankan pemerintahannya raja di bantu 3 mahamentri, ia berambisi menguasai daerah-daerah di sekitar singhosari sampai seluas mungkin. Lalu ia mengirimkan pasukan ke sumatra untuk memperluas wilayahnya, begitu juga bali berhasil ditaklukannya, atas keberhasilannya itu kaisar di tiongkok ingin singhosari menyatakan kedaulatan bergabung dengan tiongkok, tapi kertajaya tidak mau, dan pada ahirnya kaisar itu menyiapkan pasukan untuk menghukum raja jawa,  sebelum pasukan tiongkok datang ternyata kediri menyerang singhosari dengan 2 jalur yaitu utara dan jalur selatan, oleh karena pasukan singhosari yang dikirim di sumatra belum pulang, kerajaan kediri berhasil menaklukan singhosari dan membunuh raja, pendeta, dan orang berpengaruh lainnya.

Gambar

 

KERAJAAN SINGHOSARI

Raja pertama kerajaan singhosari adalah SRI RANGGAH RAJASA AMURWABHUNI, atau di kenal dengan sebutan KEN AROK, ken arok berasal dari desa Pangkur, ia merupakan pencuri dan penyamun dan selalu menjadi buronan alat-alat negara, berkat pendeta yang mengambilnya sebagai anak pungut, ia di didik dan mengabdi  kepada seorang  akuwun  atau seorang bupati di tumampel yang bernama tunggul ametung, karena sifat yang dimiliki ken arok yang ingin atau haus akan kekuasaan maka dibunuhlah akuwun tersebut dan KEN DEDES istri akuwun yang dibunuh dikawininya, sehingga ia berhsil mengambil kekuasaan di tumampel dan setelah berkuasa dan banyak pengikutnya ia melepaskan  diri dari pusat pemerintahan kerajaan kediri, sementara itu di kediri terjadi perselisihan antara raja dan pendeta, kemudian para pendeta melarikan diri ke tumampel, dan di tumampel pendeta tersebut diterima baik dan dapat perlindungan dari ken arok.

Oleh karena  alasan atau peristiwa  tersebut raja kediri kertajaya bertindak terhadap ken arok dengan memerangi ken arok, tapi dalam pertempuran di Ganter tahun 1222 ia mengalami kekalahan metlak, maka sejak tahun 1222 Ken arok menjadi raja tumampel dan kediri, yang ibu kotanya berada di tumampel atau singhosari, yang resminya disebut Kutaraja. Pemeritahannya pada saat itu aman dan tentram.

Tidak lama setelah tunggul ametung dibunuh ken arok, istrinya yang dikawini yaitu ken dedes melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ANUSAPATI. Ken dedes juga punya anak laki-laki dari perkawinannya dengan ken arok yang diberi nama MAHESA WONGA TELENG,dari istri lain yaitu Ken umang ken arok juga punya putra lagi yang diberinama TOHJAYA.

Tahun 1227 ken arok dibunuh oleh anak tirinya, Anusapati, sebagai balas dendam terhadap pembunuhan tunggul ametung, ken arok dimakamkan atau dicandikan di kagenengan, selatan singhosari dalam bangunan suci agama siwa dan budha, sementara ken dedes wafatnya tidak diketahui dan diperkirakan arca Prajnaparapita yang luar biasa indahnya merupakan perwujutannya. 

Saat pemerintahan dipegang anusapati berlangsung aman dan tentram, oleh karena anusapati telah membunuh ken arok, timbul dendam oleh pangeran tohjaya, dengan suatu muslihat  pada tahun 1247 tohjaya membunuh Anusapati, dan anusapati dimakamkan atau dimulyakan di candi kidal, sebelah tenggara Malang.

Pemerintahan tohjaya berlangsung tahun 1248 dan hanya bertahan beberapa bulan saja memegang pemerintahan, dikarenakan anak dari anusapati yang bernama Rangga wuni membunuhnya sebagai balas dendam karena tohjaya telah membunuh ayahandanya,  tohjaya sempat melarikan diri tetapi luka-luka akibat serangan Rangga wuni, dalam pelariannya tohjaya meninggal dunia dan dicandikan atau dimakamkan di Karang lumbang.

Dalam tahun itu juga (1248) rangga wuni menduduki tahta kerajaan singhosari dengan nama Sri jaya wisnuwardana, dan namanya dikekalkan dalam prasasti, saudara sepupunya, mahesa cempka anak dari wonge teleng yang selalu senasip seperjuangan dengan rangga wuni diberi kekuasaan pula untuk ikut memerintah dengan pangkat Ratu angabhaya dan dengan gelar Nara sihamurti, mereka memerintah berdua bagaikan wisnu dan indra, dalam tahun 1254 sang raja menobatkan anaknya, kartanegara, sebagai raja, tetapi ia sendiri tidak turun tahta melainkan memerintahkan terus untuk anaknya, wisnuwardhana meninggal dalam tahun 1268 di mandaragiri, dan dicandikan di Waleri, dalam perwujutannya sebagai siwa dan di jajaghu (candi jogo) sebagai buddha amoghapasa.

Candi jogo mempunyai kaki yang bertingkat tiga dan tersusun berundak undak. tubuh candinya yang letaknya di bagian belakang  kaki candi, relief-reliefnya merupakan pahatan datar, gambar-gambarnya menyerupai wayang kulit bali sekarang, dan tokoh-tokoh satriyanya di ikuti panakawan (bujang pelawak).

Pada saat pemerintahan kartanegara 1268-1292 kita ketahui bahwa sang raja dibantu oleh 3 mahamentri yaitu; rakrayan i hino, rakrayan i sirikan dan rakrayan i halu, mereka meneruskan dan mengatur rintah-perintah braja melalui mentri pelaksana, yaitu; rakrayan apatih, rakrayan demung, dan rakrayan kanuhunan, mengenai urusan keagamaan di angkatlah seorang dharmadhyaksa rikasogotan (kepala agama buda), bdisamping itu ada pendeta yang mendampingi seorang raja, seorang mahabrahmana dengan pangkat shangkadara. Dalam politiknya kartanegara mencita-citakan kekuasaan yang meliputi daerah-daerah disekeliling

kerajaan singhosari sampai seluas mungkin, untuk itu ia menyingkirkan tokoh yang mungkin menentang dan menghalang-halanginya,  mula mula patihnya sendiri yang bernama kebo arema atau raganatha, ia diganti kebo tengah atau ragani, raganatha dijadikan adhyaksa di tumampel,kemudian seorang yang kurang dipercaya karena terlalu dekat dengan kediri, yang bernama banak wide di jauhkan dengan pengangkatan menjadi bupati di sungeneb, madura dengan gelar Arya wiraraja. Pada tahun 1275 kertanegara memperluas kerajaannya ke sumatra tengah, pengiriman pasukannya yang terkenal dengan sebutan pamalayu, yang berlangsung sampai tahun 1292 dan ketika pasukan itu tiba di singhosari sang raja telah tidak ada lagi, hasil pamalayu itu dapat dilihat dari prasasti pada alas arca amonghapaca yang didapat di sungai langsat, dalam prasasti itu diterangkan bahwa dalam tahun 1286 atas printah maharajadhiraja sri kartanegara wikrama dharmottunggadewa sebuah arca amomghapaca beserta 13 pengikutnya dipindahkan dari bumi jawa ke sawarnabhuni. Penempatan arca itub di pimpin suatu panitiya yang terdiri atas 4 orang pegawai tinggi, atas hadiah ini rakyat melayu sangat senang terutama rajanya yang bernama srimat tribhuwanaraja mulawarmandewa,.

Dari nagarakertagama dapat diketahui bahwa dalam tahun 1284 bali ditaklukan oleh kartanegara begitu juga pahang,sunda,bakulapura (klimantan barat daya) dan gurun(maluku) termasuk dalam lingkungannya, dengan cempa juga ada persekutuan yang diperkuat  lewat perkawinan, menurut prasasti po sah di hindia belakang, raja simhawarman 3 mempunyai 2 orang permaisuri, seorang diantaranya putri dari jawa, mungkin saudara kertanegara, hubungan ini dilanjutkan sampai jaman majapahit, itu nyata karena buktinya saat beruta bahwa anak jaya simhawarman 3 sewaktu cempa diserang oleh annam ia melarikan diri ke jawa. 

Sementara itu berkali kali telah datang di singhosari utusan-utusan dari tiongkok yang menuntut pengakuan kedaulatan kaisar kubailah khan, mula-mula kertanagara tidak menghiraukan, karena ia tidak bersedia mengakui kedaulatan tiongkok, lama kelamaan kertanagara kesal juga, pemimpin utusan yang datang pada tahun 1289 “meng k`i” dikirim kembali setelah diberi cacat pada mukanya, penghinaan itu membuat amarah yang bukan main pada kaisar tiongkok, sehingga ia menyiapkan tentara untuk menghukum raja jawa, sebelum ada penyerangan dari tiongkok, ternyata ada bahaya lain yang lebih dekat dan tak terduga,

sejak tahun 1271 di kediri memerintah seorang raja bawahan yang bernama jaya ketawang, raja ini nersekutu dengan wiraraja dari sumeneb, yang selalu memata-matai kartanegara, insiden dengan tiongkok dan perginya pasukan singhosari ke sumatrayang sampai sekian lama belum kembali  merupakan kesempatan baik untuk menggulingkan kartanegara, atas nasehat dan petunjuk wiraraja, dalam tahun 1292  jaya ketawang melancarkan serangan terhadap singhosari dari dua jurusan; jalan utara terdiri dari tentara yang tak seberapa kuat tapi mengacau sepanjang perjalanan dan menimbulkan kegaduhan dimana-mana, dan jalan selatan bergeraklah dengan diam-diam pasukan induknya.

Kertanegara mengira serangan hanya datang dari utarasaja, dan dikirimlah 2 orang menantunya yaitu raden wijaya (anak lembutal, cucu mahesa cempaka) dan arddharaja (anak jaya ketawang), tentara kediri yang dari arah selatan terpukul mundur dan terus dikejar, sementara pasukan kediri dari arah selatan dengan mudahnya melakukan serangan dan memasuki keraton dan kota singhosari, kertanegara beserta patih-patihnya, pendeta-pendeta terkemuka, dan pembesar lain sedang makan dan minum sampai mabok, dan dalam serbuan itu terbunuhlah semua.

Tapi kenyataannya kertanegara minum sampai berlebih-lebihan bersama dengan sang maha wrddhammantri dan para pendeta terkemuka menunjukan bahwa ketika kita singhosari diserbu kertanegara bukannya sedang berpesta melainkan sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana, memang kartanegara adalah seorang pengikut yang setia benar pada agamamanya yaitu buda tantra.

Prasasti tahun 1289 pada lapik arca (joko dolok) di surabaya menerangkan bahwa kartanegara telah dinobatkan sebagai jina atau dahyani budha yaitu Aksobhya, sebagai jina ia bergelar Jnanasiwabajra, setelah wafat ia dinamakan Siwa budha,

Dalam pararaton dan dalam nagarakartagama dinamakan “Mokteng” atau yang wafat di Siwabudhaloka, sedangkan dalam prasasti-prasasti dinamakan “Lina ring” atau yang wafat di Siwabudhalaya, dan dinamakan “Lumah ri” atau yang wafat di Siwabuddha.

Kartanagara dimakamkan atau dimulyakan di candi Jawi sebagai siwa dan Buddha.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s